Conversation About Death


Seorang nenek, tetangga kami meninggal dunia.

This is the first time we're grieving over someone's death. And the person isn't bloody relatives.
But loss is a loss.

Nenek, tapi kami lebih sering memanggilnya Bude, adalah seseorang yang cukup dekat dengan kami. Hampir setiap hari menyapa -kalau sedang di rumah- ngobrol di depan rumahnya yang juga sebuah warung kecil. Anak-anak bahkan suka duduk tanpa ibunya -yang belum selesai bebenah rumah- dan mengobrol dengan Bude. Bude juga sering memberikan mereka makanan warung, biskuit, dan menolak dibayar. Hiks.

Terakhir kali kami menyapa adalah dua hari sebelum kematiannya, saat aku membeli kopi untuk petugas pln yang sedang membetulkan meteran listrik rumah. Mengobrol sebentar. Tak ada tanda-tanda apapun selain ia ngotot menggratiskan satu bungkus kopi karena uangku kurang :(.
Hari di saat Bude meninggal aku menyuruh Biba untuk solat maghrib dan mendoakannya. Sejam kemudian kami mendapatkan berita kalau beliau meninggal. Biba langsung menangis dan memelukku sambil berkata,
"Aku sayang nenek aku...."
Sementara Bita berucap,
"Nanti kalau ada yang mau beli ciki lagi gimana?" 
"Nanti kalau Cia mau beli biskuit gimana?"
Sejujurnya aku belum pernah menjelaskan mereka tentang konsep kehilangan, dan entah mengapa saat itu, begitu mudahnya mereka mengerti. Meskipun terus bertanya mengapa Bude harus pergi.

"Kenapa Bude pergi bu?" 
"Karena Bude sakit." 
"Apanya yang sakit? tangannya? badannya?" 
"Semuanya." 
"Kenapa sakit?"
Hmm. Kenapa ya? 
Karena sudah waktunya, nak.
Kematian adalah keniscayaan. 
Tapi hidup berjalan sebagaimana kita arahkan. 
Pada saatnya nanti, ibu yakin, kalian akan benar-benar mengerti.


In memoriam to our beloved Bude (30-10-2018)

Comments

Popular posts from this blog

FREE RAMADAN PRINTABLE

#NaturePlay 2: Flower Bouquet

#NatureJournal: 1. Banana Tree